Kamis, 25 Juli 2013

The Simply Place


I learn a lot here. Not only about english, but also about life. How to deal with people, how to manage people, brotherhood, caring, sharing, courtesy, and the most important is you learn about yourself. 

Here, I got so many friends. It is awesome when you have some friends from any background. Different age, hometown, education, job, even differ in dreams and goals. It is really awesome. There are teacher, chef, accountant, technician, scientist, doctor, photographer, traveler, event organizer, businessman, linguist, designer graphis, and soooo many other jobs, or even they just graduated from elementary school, junior high school, or senior high school, they are still awesome, they have a great dreams and also with all of their past. Each of us has our own story to tell. So I learned that everyone is special.

Actually, my first plan was just stay in one month. But something hold me. I was offered to stay longer here. It is one of my opportunity to develop my self because I think that this place is a good one to grow, if you want and utilize your opportunity. Beside, this place taught me, make me realize that  life is so much unpredictable. Sometimes, maybe something happens doesn’t turn out as we planned. May our plan is good but believe that God’s plan is better. I do learn about phrase ‘Man proposes, God disposes’.

But recently, the atmosphere in here is not really conducive. Maybe because so many people already go home then caused a sadness and just several people still stay here until the end of this period, moreover now is nearly to ied fitri.  

I know this week is gonna be my last. Me and my friends is gonna separated. Sometimes, when we realise that the day when we’ll go home is near, we just pretend that  we don’t know about the date. Try to ignore knowing the date. Vain effort, I know. But just try for not to ruin our daily happiness now, even we can’t always pretend that we’ll still together.  Because we know so well that every ‘Hello’ must be end up with ‘Goodbye’.  Hard, but true. It is the second lesson that commonly happen in here. People come and people go. This is the part of dancing. We face it, every two weeks or one month, because this place is like haven. So many people come and go.  We (the old members) are familiar with introduction and parting. But now, we as the old members will undergo this phase.

Just in a few days, I’ll come back home. Happy because I’ll meet my family. Sad because I’ll be separated with my friends, my second family.

So many lessons that I learned here. This place is just great, and the people also. It’s hard 
even just stay in a few months here, but it feels like home.

Thank you God, I am really thankful because You gave me an opportunity to came here, met many people and making friends with them and learn. So yes, I am blessed.

If Victor Hugo, the well-known author of Les Miserable, said that “life is voyage” then my beloved teacher here said, “Every place that you visit is school and every person that you meet is teacher.” :)) 


*just trying to posted my blog in english, sorry if my english is still a mess, hehe, still learning* :p

Jumat, 08 Februari 2013

Uji


Kadangkala kita diuji, diuji atas apa yang dulu pernah kita katakan, kita tulis, kita pikirkan, bahkan atas apa yang kita inginkan meski hanya sekilas. Meski hanya sebersit keinginan.
Dan seharusnya, sederhananya, ketika sesuatu yang diinginkan ‘terwujud’, sejatinya, orang yang normal dan sadar sih yaaa.. berterimakasih.
Sama seperti saya, yang dulu sempat terbesit keinginan akan waktu yang senggang saat berkutat dengan kesibukan.
Kini, terjadi. Dan dikabulkan.
Waktu senggang nya banyak. Berlimpah.
Dan memang seperti postingan saya yang sebelumnya, harusnya yaa... nikmati.. nikmati prosesnya..
Meskipun ternyata, ga segampang yang dikira..
Dan meski memang, saya ga menampik bahwa perlu regulasi diri untuk membunuh rasa bosan yang terkadang melanda. Fiuuh… *elapkeringet*

Sekarang? Masih menunggu dan mencari.. Bismillah..  semoga memang diberikan jalan yang terbaik.. :)

“All this randomness is leading towards a perfect moment.”  - Jeff Who Lives at Home (2012)

Jumat, 07 Desember 2012

Kubu Peralihan


Emm... darimana ya mulainya...

Gini, berada di tengah-tengah itu membuat kita mau tak mau melihat sisi-sisi kita. Macam sekarang. Saya kan berada di masa peralihan. Peralihan apa? Iya, peralihan, dari mahasiswa ke bukan mahasiswa..

Saya sudah dinyatakan lulus dari September, tepatnya “Surat Keterangan Lulus” saya dicap tanggal 28 September. Resmi dari situ, saya gak ada urusan apa-apa lagi tentang kegiatan kampus mengenai perurusan akademiknya. Bebas. Wohooo!!
Tapi toga belum dipakai, ijazah juga masih diproses, kata lain adalah, saya belum wisuda. Perlu diketahui kalo di IPB itu, wisuda diadakan beberapa kali dalam setahun, yang setiap wisuda diberlakukan kuota demi kelancaran dan kecukupan gedungnya. Sedangkan wisuda terdekat dari September itu adalah Desember, tapi  kuota desember itu udah abis, jadilah daftar wisuda setelah Desember yaitu di Februari.

Nah, terus apa? Yaa.. karna masa peralihan gini, tentunya cari kerja.  Beberapa pekerjaan menerima surat keterangan lulus (tidak mesti ijazah) jadi yaa.. selama menunggu wisuda (yang Februari itu) saya juga sambil apply pekerjaan.
Beberapa teman, sudah ada yang kerja, beberapa juga statusnya masih sama, peralihan menunggu wisuda dan belum mendapatkan pekerjaan tetap.

Saya, sambil nunggu wisuda, sambil apply kerjaan, sambil lanjutin kerjaan part time, sambil menunggu pekerjaan yang beneran.

Dan saya, hasil dari mengobrol, atau hasil dari status twitter atau fb, lama kelamaan menyadari, ada dua kubu dalam fase saya dan teman-teman seangkatan ini. Pertama, teman-teman yang lulus duluan serta sudah mendapatkan kerja, dan teman-teman yang masih menunggu kerja.

Liat dari beberapa status di berbagai media sosial, beberapa teman yang sudah bekerja, mengeluh, mengeluh waktunya tersita habis, mengeluh akan kemacetan yang dihadapi sebelum dan setelah bekerja, mengeluh akan pressure yang dihadapi dunia kerja, karna kenyataannya, dunia kerja itu sangat berbeda dengan dunia kampus. Dan malah beberapa mengatakan “rasanya ingin resign”.

Lalu teman2 yang belum mendapatkan kerja, begitu sangat ingin mendapatkan kerja, begitu bosan dengan aktivitas harian yang itu-itu aja karna ga ada kerjaan, menunggu test panggilan kerja, lalu searching kerjaan lagi, lalu apply lagi, lalu menunggu test panggilan, lalu begitu seterusnya. Hingga akhirnya beberapa ucapan keluar, “kerja apa aja deh, yang penting ada kerjaan, dapet duit” saking bosannya akan waktu yang berlimpah.
Contoh, ketika ada kakak kelas yang sudah kerja di Bank besar BUMN mengatakan “ingin resign”. Di sisi lain, beberapa teman saya begitu sangat ingin kerja di bank tersebut. *deepsigh* ironi.

Jadi, yang satu mengeluh akan waktunya yang sedikit untuk istirahat dan kerjanya, yang satu mengeluh akan kebanyakan waktunya.

Lantas apa ya…

Bagi yang belum mendapatkan kerja, betapa ternyata, (kerja yang diinginkan) setelah masuk ke dalamnya membuat orang lain ‘pengen resign’. Betapa waktu luang menjadi barang mahal bagi yang sudah kerja, betapa ternyata, bekerja juga melelahkan, dan betapa beruntung dirinya masih memiliki waktu yang berlimpah.

Dan bagi yang sudah dapat kerja, betapa ternyata, kebanyakan waktu istirahat juga membosankan, betapa lelahnya mencari pekerjaan, bersaing dengan jobseeker lain, dan betapa beruntung dirinya sudah mendapatkan pekerjaan.
Intinya? Yaa.. ternyata, waktu yang berlimpah adalah sebuah anugrah, dan mendapatkan pekerjaan juga adalah sebuah anugrah pula.

Mau sedang terkategori fase manapun, alangkah baiknya jika termasuk orang yang bersyukur. Mau yang waktunya sedang berlimpah, atau yang sudah bekerja.
Semua itu, pasti ada masanya. Hehe..
Because there is always something to be thankful for.. :)

Kamis, 15 September 2011

.....


Dengan kehidupan, kadang-kadang merasa iri,jealous,atau apapun namanya itu karna saya bukanlah kamus yang punya percadangan banyak kata. 
Merasa diri useless, merasa better to be someone else, merasa kehidupan orang lain lebih bagus nasibnya, merasa ada yang salah dengan keberadaan diri, merasa.. merasa.. daann..berbagai ‘rasanya…’  yang terlalu banyak dirasa…

Pernah? Ahh.. pasti pernah, sama seperti sekarang. Berulang kali layaknya roller coaster yang naik turun, turun saat kepercayaan diri hilang entah kemana, turun saat orang lain lebih lebih lebih lebih hebat, turun saat sepertinya semua motivator-motivator di dunia ini hilang seketika, turun saat coretan mimpi hanyalah tetap sebagai coretan, turun saat semua kata-kata atau nasihat-nasihat bijak tak pernah diketahui sebelumnya, turun saat air mata menetes tanpa ada alasan, turun saat….... turun.

Dan larinya pun tetap sama, ke arah yang sama, mengadu cerita, lalu bertanya-tanya tanpa perlu merengek, hanya bertanya. Pelan. Diam. lalu terpekur, merenung.

‘Saya sedang naik roller coaster kah, Tuhan?’

Rabu, 01 Juni 2011

Taara Zameen, Pulau Solomon, dan Berpikir Positif

Semalem saya baru menonton film india, mungkin beberapa orang udah ada yg nonton, judunyal “Taare Zameen Par”.  Tapi tunggu dulu, tak perlu membayangkan adegan bernyanyi sambil mengitari pohon atau adegan tokoh utama bernyanyi sambil  joged diikuti orang-orang yg tiba2 dateng dan banyaknya se-RW.  Gak ada sama sekali. Tapi kalo untuk urusan nyanyi alias soundtrack mah tetep ada. Ini justru salah satu ciri khas dari film india. Kalo filmnya udah mulai ga jelas, peran antagonis selalu menang dan matanya melotot setiap bicara atau marah, peran utama hilang ingatan, dll.. mmhh.. itu mungkin sinetron Indonesia.

Well.. balik lagi ke “Taare Zameen Par”. Ini film sangat direkomendasikan untuk ditonton buat keluarga, para orang tua, buat anak muda calon orang tua, buat siapapun yang hidupnya berinteraksi dengan anak. Ga rugi ko hanya menyisihkan waktu kurang lebih 2 jam 40menitan untuk nonton film ini.

Oke, kita mulai dari cerita tentang apa film ini. film yang diproduseri oleh Aamir Khan ini bercerita tentang seorang anak yang disleksia. Apa disleksia? Singkatnya suatu kondisi yang tidak bisa membaca. Melihat huruf seperti menari-nari. Jadi orang yang mengalami disleksia pada masa kecil akan dikatakan bodoh karena mereka tidak bisa membaca. Di film ini pun demikian, padahal Ishaan, tokoh utama film ini yg berusia 9 tahun, ketika disuruh baca sudah mengatakan dengan sejujurnya bahwa ‘hurufnya menari-nari bu’. Ehh.. si guru malah marah dan menyuruhnya keluar. Itu baru satu guru, intinya adalah Ishaan ini dikatakan trouble maker, anak bodoh, si idiot oleh guru2 bahkan oleh ayahnya sendiri. karena ayahnya udah bingung, anaknya terancam tidak naek kelas lagi, akhirnya sang ayah pun mengirim Ishaan ke sekolah berasrama.

Di sekolah yg baru, ishaan mengalami hal yg sama di sekolahnya dulu, dikatakan bodoh, idiot, pemalas, hingga diketawai sekelas. Jauh dari keluarga dan dengan kondisi semua guru  memandangnya bodoh, Ishaan pun mulai agak depresi, dia semakin banyak diam, bahkan dia tak lagi menggambar pdahal itu adalah hobinya.  

Lalu sampai kapan ishaan dicap bodoh? Sampai kapan ada yang sadar bahwa ishaan bukan tidak mau belajar membaca tapi mengalami disleksia? Lebih lengkapnya, silakan aja tonton sendiri..  :D

Yang saya mau sampaikan tidak hanya mengenai resensi film ini, ada beberapa sedikit cuplikan film menarik mengenai fakta yang kebetulan saya baru tahu.  Bahwa ada kebiasaan unik di Pulau Solomon, Pasifik Selatan.

Apa yang mereka lakukan untuk menumbangkan pohon yang sulit ditebang? Mereka mengelilingi pohon itu dan meneriaki pohon tersebut dengan kata-kata kasar selama beberapa hari (sumber dari kaskus mengatakan hingga 40 hari). Apa yang terjadi? Yaa.. lama-kelamaan pohon berakar kuat yang sulit ditebang itu pun rapuh, perlahan dedauan mulai mengering kemudian dahan-dahannya mulai rontok. Dan Lama-lama pohon itu pun mati.

Lalu bagaimana dengan manusia atau anak yang diteriaki kata-kata kasar? Dikatakan idiot, dasar anak bandel, nakal, anak bodoh, anak yg ga mau diatur, anak ga tau diuntung, anak ceroboh, cengeng, dan berbagai teriakan2 negatif lainnya yg biasa dikatakan terhadap anak.. sama seperti dengan kejadian pohon, lama kelamaan anak pun akan rapuh.. mungkin tidak rapuh pada kondisi fisik seperti yg terjadi pada pohon, tapi rapuh secara mental.
Jadi seberapa pentingkah pikiran, perasan, dan perkataan positif? Khususnya pada anak dan umumnya terhadap makhluk hidup? Jawabnya, sangat penting!

Yaahh…. At least, perkataan negatif pun sedikit berguna untuk menumbangkan pohon yg sulit ditebang.. jadi kan ga perlu modal kapak.. *loh? Ceritanya berusaha mengambil sisi positifnya (jadi sedikit terpikir, sbenernya dg berpikir positif thd pohon, secara tdk lgsg kita melakukan gerakan cinta lingkungan alias biar pohon ga tumbang,hhe.. #topikmelebar)


Anyway, selamat menonton bagi yg belum..
Daann… selamat berpositif riaa…!!  :D *kecuali jika anda benar2 ingin menumbangkan pohon

Jumat, 04 Februari 2011

Sehat itu Mahal


Baru pertama kali bengkak mata nihh... ga enak banget... berasa ada yang naplok di kelopak mata... -______-"

ternyata kadang-kadang perih juga ya..? udah di kompres air anget, air dingin, tetep aja masih bengkak.. smg besok engga Ya Allah.. *pake suara baim*
kalo kayak gini, bawaanya jadi pengen merem mulu.. (alibi) 
abisnya berasa berat sih ni mata.. padahal cuma sebelah kiri doang.. *sigh
sehat emang mahal, setelah merasakan beratnya mata yang bengkak, jadi merasakan betapa nikmatnya mata yang normal, sehari-hari, enteng-enteng aja..tanpa harus mengeluarkan air mata yang terkadang ngucur sendiri kalo mata lagi bengkak.

padahal mungkin tampak sepele, bengkak mata sebelah, tapi kadang-kadang hal itu menganggu aktivitas sehari-hari (untungnya lagi liburan, ga kuliah,gabut di rumah).
Tapi coba deh bayangin, hal-hal sepele yg terjadi sama tubuh kita, bahkan bisa sangat mengganggu kita,
mata bengkak sebelah ato bintitan, sariawan, gigi cenat-cenut, sakit kepala, meler, dll...
terdengar biasa, dan sepele: 'besok juga sembuh ' tapi tetep aja saat mengalami hal-hal ga enak diatas, jadi kangen sama diri sendiri yang sehat.. :(

'kita tidak akan pernah benar-benar merindukannya sampai kita kehilangannya

mata ohh mata..

Jumat, 14 Januari 2011

Tanpa Judul deh

Padahal udah niat banget mau nulis di blog tentang yg serius.. ttg minat, cita-cita dan mimpi-mimpi saya.. hhe 
Tapi berhubung daritadi (abis asyar) berseliweran terlebih dahulu, ngalor ngidul kemana2 berselancar di dunia maya dan ga nyangka udah jam setengah sepuluh aja *pantesan ngantuk*, akhirnya dengan sok bijak, saya pun memutuskan utk lain kali aja nulisnya..
Padahal tadi semangat nulisnya udah bagus tuhh.. bermula dari buka internet, buka fb, dan ada yang ngelink ke indonesia mengajar yang merupakan program Anies Baswedan untuk mengajak para fresh graduate mengajar di pelosok-pelosok Indonesia selama setaun, bagus programnya..
merupakan salah satu kontribusi thd dunia pendidikan Indonesia yang selama ini masih mengalami ketidakmerataan dalam penyebaran ilmu. Makanya sarjana2 terbaik Indonesia diajak untuk mengikuti ini..
sebenarnya saya tertarik, dan pengen ikut.. tapi : 
pertama, saya belum menjadi fresh graduate
kedua, setelah banyak baca-baca dari webnya (liat disini) jadi merasa minder.. karna banyak yang lbh berprestasi.. (tapi tentunya ga boleh pantang menyerah dong..) makanya dari skg mu getol ahh.. aktif di organisasi2.. hheu.. *dan menjadi pacuan untuk meraih ipk tinggi

oia, selain itu *sekedar info* ada kisah inspiratif dari pengajar muda yg udah tinggal di pelosok di Sulawesi, bagus tulisannya, baca deh, inspiratif dan bikin merinding.. jaman udah 2011 gini, masih banyak di penjuru-penjuru sana berlian-berlian yg masih tertutup debu.. cerdas, tapi sarana dan prasarana kurang.. :(
dan ternyata setelah baca-baca lg informasi ttg penulis tsb, dia adalah penulis novel dan lulusan Ipb.. hhe.. (anak ipb yg masuk cuma 3 org,yg paling banyak dari itb). Dari 1000 lebih pendaftar, hanya 51 akhirnya yg diberangkatkan.. *beruntung ya mereka, bisa menyumbangkan ilmunya, kalo kata Anies Baswedan ; menitipkan pahala :D

Akhirnya jadi penasaran pgn liat novel-novel karangan dia,terus searching, dan baca beberapa sinopsis novel karangannya terus sambil ngubek2 cari informasi di web indonesia mengajar, saya baca artikel mengenai salah satu pengajar muda (sebutan yg ikut partisipasi di Indonesia mengajar) yang rela meninggalkan kerjanya di Singapura untuk ikut program ini dan bikin e-book "aku bangga aku anak indonesia.".akhirnya nemu tuh bukunya lewat evolitera, terus download, terus saya iseng aja menulis kata2 novel di kolom searchnya, eh banyak buku yg keluar, akhirnya saya baca deh novel e-book nya, lupa judulnya apa, tapi jadi keterusan, karena sadar waktu, lebih tepatnya kaget, terus inget mau cari film dari singapura yg judulnya I not stupid, cari deh di youtube.. 

dann... makin kaget aja sekarang udah jam stgh sebelas.. begitulah perjalanan saya di dunia maya shg tidak jadi ngeposting tulisan ttg mimpi2 saya.(soalnya kalo uda malem,ngantuk,ga mood nulis,tulisannya suka jadi ngaco, kyk skg ini) 
pdahal uda niat mau tidur lebih awal.. setelah selama ini tidur tengah malem mulu karena ngebut ngapalin buat ujian.

well... udahan dulu yaa...
bye.. :)