Rabu, 14 Mei 2014

Pointless

Have you ever feeling so stuck, so bored,facing thing many times but didn't find a way yet, you know you gotta move on but you had no idea at all about where you should move. Oh yeah, that's me now.
Sometimes I just want to scream aloud or grab a wand to change these things at a glance, bim salabim, voila!

but I realize, it wont happen, life's somehow more complicated (or it just our mind)?
then I realize, there's more efficacious than a wand ; God's will. 

When I feel so confused, really feel in the lowest point, dunno what to do, feel so stuck, helpless, and so on.
Then I just remember Allah. He's the one who keep His promises, no ones will help unless Him.
So I am trying to keep myself sane by zikir.

sometimes it's hard uh? accepting what happened now is for a reason but keeping that positivity is like .... hhrrrr!

*kicking away the negative thoughts, don't ruin my positivity!

 

Rabu, 26 Maret 2014

Kapan ?

Setelah usia-usia melewati tahap skripsi-wisuda dan mendapatkan kerjaan maka dihadapkan dengan pertanyaan yang lebih serem dari ‘kapan lulus’. Yeah, apalagi kalo bukan ‘kapan nikah’.
Heem, yak. Itu dia. Ternyata pertanyaan ‘kapan nikah’ lebih serem ketimbang ‘kapan lulus’.

NIKAH. Ni tema lagi trending topic banget di usia rentan-rentan begini.
Selalu ada momen dimana seneng banget denger berita kabar bahagia dari temen, tapi miris pas ngeliat diri sendiri. Oh well.

Jadi abis ngeliat orang posting undangan nikah, posting foto pernikahannya. Kita selalu merasa ikut senang daaann ....
bertanya-tanya.
Kapan ya giliran kita? :”)
#eeaaa

Di grup whatsapp lah, di facebook lah, serangan undangan2 pernikahan bertubi-tubi. Belum lagi desas-desus yang beredar alias lagi persiapan dan kita udah keburu tau duluan. Belum juga serangan udara dari foto-foto postingan temen2 yang udah nikah, atau lagi hamil, atau baru melahirkan, atau anaknya yang masih baby, atau anaknya yang sudah bisa jalan, atau hamil anak kedua atau, ah sudahlah..
Mau yang belum punya pasangan atau yang sudah, sama aja galau. khawatirnya sama. Tapi dalam kadarnya masing-masing. Yang udah punya, galau, ‘bener ga dia jodohku?’ , yang belum punya apalagi, ‘mana jodohku?’.

  Just saying, keputusan menikah artinya keputusan sisa hidupmu. karna pasangan yang dipilih bukan buat sehari atau dua hari barengan, tapi sisa hidupmu.
Terus gimana?

Ya memang mau begimana, bilang sama Sang Pembolak-balik Hati. Sounds cliche. But that’s the fact.
Lagipula bukan saya yang bilang, tapi kitab suci.

..Mohonlah pertongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat..” (QS 2 : 153)

Jelas sekali perintahnya. Jadi yang pertama, kalau minta itu harus sabar.
s.a.b.a.r

sabar

Sabaaaaaar
Saaaaaabar
sabar ~
 

Apakah sabar itu berbatas waktu?
Hemm, silakan jawab sendiri.
#KalauBisaCepatKenapaHarusDiperlamaYaAllah *uhuk

Dan yang kedua, sholat. Oke, sholat.
Sholat wajib? Sholat sunnah? Yaaa paket komplit pasti lebih mantep.

dan selagi meminta, sambil berbuat juga.

Berbuat memantaskan diri untuk masa depan yang lebih baik. Memantaskan diri untuk jadi ibu/ayah yang baik. Karna kebanyakan orang meminta sesuatu yang belum tentu mereka siap untuk menjalaninya.
Padahal kaca ada dimana-mana. #yaelah
Jadi ya, sibukin diri untuk memperbaiki diri.
Emang udah pantes? Emang udah siap? Jawab di hati masing-masing deh. Cuma diri sendiri yang bener-bener tau apa jawabannya.
Karna Tuhan itu selalu ngasih pas kita udah siap, bukan pas kepengen.

Tulisan ini sebenernya bukan buat penggalau-an massal sih, sekedar pengejewantahan pemikiran aja apalagi pas lagi rame-ramenya di grup. Antara ketawa bahagia dan ketawa miris. Hasilnya cuma senyum meringis.

Jadi daripada menatap nanar postingan pernikahan, lebih baik menatap nanas. Loh? Ya gak lah.. makanya jangan keseriusan baca, seriusin aja berbuat :)


“Most people don’t grow because they invest too much time in investigating what others do and less time to mind their own manner.” –dari dia yang lupa namanya disadur

Rabu, 01 Januari 2014

Kemana - 2014

Meski gelap, jalanan terjal, berkelok-kelok dan hanya ditemani lilin semata, jika memang sudah tahu tujuannya, pasti tak gentar.

Meski tak jelas, tampak buram sekali, seperti tak menjanjikan jalan yang sekarang diambil, ditanggapi berbagai komentar miring orang-orang, dan walaupun hanya ditemani lilin kecil sebagai keyakinan hati, pasti akan sampai jua. Atau minimalnya, digantikan dengan yang lebih baik.

Begitu juga dengan sia-sianya jalanan yang terang, luas dan mulus, jika tak tahu mau melangkah kemana, peningkatan barang sedikit pun tak didapat. 


Seringkali penyesalan itu terlahir dari kurang maksimalnya usaha, bukan sekedar dari hasil yang diperoleh. 



Selamat Tahun 2014 :)
Selamat menjalankan rencana dan target-target yang telah disusun. 
Semoga pencapaian diri pada tahun ini jauh jauh jauh lebih baik dari sebelumnya. aamiin. 

Selasa, 17 Desember 2013

Hidup dalam Spasi

Life is not only about a bed of roses. Yang kesemuanya tampak menyenangkan sekali, lalu kehidupan semacam mulus-mulus saja tanpa ada hambatan berarti, tanpa ada kesulitan yang dihadapi, tanpa ada tantangan sama sekali. 

Perjalanan kedua saya ke Pare kemarin membuat saya sadar. Hal ini tentunya dirasakan bagi yang pernah ke Pare, bahwa Pare, entah bagaimana caranya, mempunyai daya tarik tersendiri untuk kembali kesana, menuntut ilmu, bertemu teman baru, atau sekedar menghilangkan rasa jemu. 

Lihat, bagi yang sudah kesana, kata-kata semacam 'kangen' atau 'rindu' itu obral sekali untuk dikatakan kepada Pare.

Bagi saya, Pare itu semacam aktivitas menghela nafas dalam kehidupan, atau seperti spasi dalam kalimat.

Bagi kalian, terutama yang hidupnya di kota-kota besar, kota yang sibuk sekali, dengan obral suara klakson kendaraan dimana-mana, ricuhnya macet, jalannya orang-orang yang mengejar waktu hingga lupa diri, lupa untuk sekedar menyapa, lupa untuk sekedar menoleh ke sekitar. Maka Pare, semacam hidup dalam jeda. Mayoritas menggunakan sepeda, maka suara bising apa yang perlu dipersoalkan? Mayoritas belajar, suasana lingkungan kondusif bagi yang haus ilmu. Mayoritas sambil berlibur, menikmati kulinernya, nikmati budayanya, nikmati pemandangannya, nikmati suasananya. Dan membangun ikatan, teman baru, sahabat baru, tawa baru, canda baru, tangis baru, bahkan tak dipungkiri; cinta baru. Selalu ada kisah. Apapun itu. 

Tampak menyenangkan bukan? Ah ya, begitulah :')

Dan seperti itulah, saya memandangnya, sebelum kunjungan kemarin. Sebelum keinginan menggebu saya untuk kembali tinggal lama disana. Melihatnya dari kacamata kuda, bahwa bagaimana pun, Pare akan menjanjikan masa depan yang lebih baik.
Kenyataannya? Ya memang seperti itu, jika. --diiringi dengan kata jika, maka ada syarat dan ketentuan berlaku-- Jika kita pun mengusahakan demikian. 

Jadi, Pare bukanlah 'supir'nya yang mengantarkan, tapi 'kendaraan'nya. Supirnya adalah kita. Sutradaranya tetap kita, pemainnya juga. 

Perkara akan kesenangan yang didapat, kedamaian yang diperoleh, apakah akan mengurangi resiko yang ditawarkan hidup? Tentu saja tidak. 

Pare atau tempat manapun itu memiliki kemanisan dan kepahitannya tersendiri. Dalam kadarnya masing-masing. Bahwa Pare tidak hanya menjanjikan kehidupan manis semata, setiap tempat, dimanapun itu, akan selalu ada sisi pahit yang tak bisa ditawar.


Seperti halnya spasi atau jeda. Pare bagi beberapa orang pun begitu. Tak perlu waktu lama untuk membubuhkan spasi antar kata. Sedikit saja. Kebanyakan malah akan menyebabkan ambigu suatu kalimat. Malah akan membuat ruang kosong. 


Jadi, biarlah Pare menjadi spasi pelengkap kalimat yang baik dan menyenangkan. Menjadi pelengkap keseimbangan. Untuk selamanya menjadi jeda. Sesuai porsinya masing-masing.



*tulisan ini ingin mengingatkan penulis yang pernah memiliki keinginan penuh untuk tinggal terus saja di Pare, membangun kehidupan disana, membayangkan bahwa akan menyenangkan bertemu orang-orang baru setiap periodenya, dan akan belajar banyak dari orang-orang yang akan datang dan pergi itu, dan rasanya tidak ada tempat pembelajaran yang lebih baik lagi selain di Pare, namun kenyataannya? rasa manis dan pahit itu akan selalu beriringan. Jadi, persoalannya bukan dimana, tapi bagaimana. Bagaimana mengolah kedua rasa itu menyeimbangkan kehidupan yang dijalani*

Kamis, 28 November 2013

Percakapan itu

A : Kamu tau rasanya dicintai?
B : Apa artinya kalau ditimpa sakit hati?

A terdiam sejenak

A : Bukankah itu pertanda untuk menghargai rasa yang ada?
B : Kupikir untuk tidak perlu mencinta lagi

Percakapan di senja itu. Hujan pun turun, perlahan.

Kamis, 21 November 2013

Gatau

Aku nya gatau, bingung. 
kenapa bingung? karna aku mau. lihat bahasaku, sudah macam surayah saja kan? ah yasudahlah, biar saja. aku yang mau.
Mau ku banyak ya? yaa biarlah, namanya juga mauku, bukan maumu.

Oh iya, balik lagi, ke bingung tadi, iya, aku bingung, karna aku mau, aku bingung karna ada beberapa tawaran pseudo yang mana baiknya aku ambil, yang baik buat aku dan juga kehidupan aku dan orang-orang sekelilingku.

Tuhan, Kau pasti mendengarku, dan Kau juga pasti Tahu karena Engkau Maha Tahu.
lalu aku harus bagaimana? terus, bagaimana aku tahu jika itu jawabanMu?

Tuhan, diatas Maha Segalanya, salah satunya, Kau juga Maha Romantis, pasti indah sekali rencanaMu ini, lalu lantas, aku harus kemana, untuk menuju jalan indahMu itu?

Terimakasih Tuhan, telah memberikan kehidupan yang luar biasa, dan juga pemahamannya. terimakasih atas segalanya. Terimakasih. 

Bagaimana bisa aku mengucapkan terimakasih terus? karena memang itu tidak akan pernah cukup, tapi setidaknya, aku terus-terusan mengucapkannya. Pengulangan itu halusnya penekanan. Terimakasih Tuhan :)

*random thought. gaya penulisan dipengaruhi setelah baca cuplikan cerita pidi baiq* #abaikan

Sabtu, 12 Oktober 2013

Definition of Success

Just killing the time opened my old book and found this, 
what a lovely quote from Diana Rikasari, a famous fashion blogger and one of young entrepreneur in Indonesia, about success; 


"I think, success is a state of mind where we are simply happy because we are living a life we love. 
So never quantify succees, for success is not an objective.
It's not defined by figures or ranks, but it makes your mind and heart ready for whatever number you'll achieve.
You are a successful person if you have managed to wake up every morning and smile because you know you got the whole day to do what you love"



I might not a fashion lover, but I just love her because of her sightseeing, her humble opinion for what she's already achieved, and her simply love to life that we actually really need in this life. Just love her personality and most of time in some matters I agree with her view.



"The only way we can enjoy life and feel truly happy is when we are genuinely grateful for whatever we have. When you're happy, you're more productive. And when you're productive, life just becomes better.."